Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Oktober 2019

Puisi : Wajah Muram Demokrasi

Hasil gambar untuk demo

Ketika langit menuturkan kebijakan
Memaksa rakyat menyorakkan suara
Memanggil sertiap hati nurani yg masih tersisa

Ketika langit menelurkan paksaan
Memaksa rakyat menguatkan raga
Menyeret setiap insan ke jalan
Mengorek sisi kelam parlemen

Dan ketika langit mencoreng martabatnya
Rakyat tergerak nuraninya mengambil alih tampuk perjuangan melawan kesewenang wenangan yang mereduksi keadilan anak2 ibu pertiwi

Dan ketika langit memaksa
Rakyat bergeming menanam dalam kaki di aspal menyatu dengan tekad menutup wajah buram demokrasi

Sabtu, 19 Oktober 2019

Puisi : Antologi Langit

Hasil gambar untuk langit

Antologi Langit



Warna
Biru terang menembus beribu kaki
Hamparan awan cumulus yang menyertainya

Menampilkan rasa anggun dan gairah mendalami setiap makna dalam kehidupan

Awan
Payung alami, berbaris lembut seperti kapas kapas di musim semi
Putihnya menjadi tabir yang melindungi segenap raga duniawi

Dan Hitamnya membawa buih lautan yang tiap titiknya menjadi hal yg paling berharga

Udara
Nafas yg menghirup
Bau yg dicium
Polutan yg mencemarinya
Adalah nikmat yg sama rata
Sama sama kita nikmati bersama

Banyak dari semesta tak punya langit, bumi adalah pengecualian
Semesta menganugerahkan alam yg tepat bagi semua spektrum kehidupan

Minggu, 23 Juli 2017

Sebuah antologi puisi : Musyawarah diantara dua pemikiran

Selepas malam yang bagiku merupakan titik mengacaukan perasaan terutama cinta. Membuat pagi ketika aku terbangun masih lesu dan melihat chat yang masuk dari seseorang terasa hambar. Didalam pikiranku terjadi pertentangan yang hebat antara pihak yang masih ingin bermusuhan dan pihak yang menginginkan perdamaian. Kedua pihak saling tarik menarik, hingga menyebabkan pagi ini aku merasa lesu dan pusing tidak terkira.
Setelah berdiam cukup lama dan berpikir tentang suatu hal yang aku rasa adalah solusi terbaik. Aku tertarik untuk berdamai, dimana sisi ini mampu membuat suatu usaha yang lebih keras dengan memanggil roman-roman dan kisah nostalgia yang membuat lidahku kelu sehingga tak mampu mengatakan apa-apa. Seraya mereka berkata dengan syair-syair dari kahlil gibran, sayup-sayup terdengar seperti ini :

Bagai di ufuk ketidak nyamanan
Disatu sisi diriku memaki-maki pikiran
Menyalahkan segala hal yang menjadi hambatan
Sehingga mereduksi besarnya perasaan

Tak jemu kah malam kau buat begitu kelu
Membutakan mata hati pikiran dan jiwa agar tetap tegak
Mencungkil sisi romatis dalam pikir dan khayalmu
Dan menyederhanakan rasa hingga menjadi retak

Disisi ini kamu masih berdiam
Dengan sejuta romansa dan nostalgia yang telah kami berikan
Mengubur kegalauan ketika malam
Dan menutrisi rasa yang telah pesakitan

Kembali lah pada hakikatnya cinta mu
Dimana yakin dan rindu disatu padankan menjadi satu
Menjadi upaya untuk mebiaskan rasa ragu
Dan menyingkirkan kelemahan dari cinta mu

                       
“ Ketika rasa menjadi biasa, maka nostalgia yang mengembalikannya. Ketika rasa menjadi luar biasa, maka kesal yang mereduksinya” Anbu, 23 Juli 2017 

Rabu, 19 Juli 2017

Jendela



Coba lihat jendela
Tetesan air hujan jatuh seperti biasanya
Angin berhembus meniup ujung kepala
Hingga dingin menusuk sukma
           
Masih menatap jendela
Ketika hujan mereda diujung senja
Mata dijajarkan hamparan awan menggulung indah
Hingga memaksa mata menatap lama

Sekarang tutup lah jendela
Manakala senja berganti bulan purnama
Hembusan angin malam kian menyapu raga
Hingga membuat berdiri bulu roma

Lalu tinggalkan lah jendela
Dimana seperempat jam waktu kau habiskan dengannya
Menatap kemegahan semesta
Hingga kau enggan untuk meninggalkannya

"Lain dari biasanya sebuah kata menjadi aksioma yang janggal, terkadang muncul tiba-tiba mengalir dari ujung kaki hingga kepala" - Kang Anbu, 2017

Selasa, 27 Juni 2017

Dilema Takdir


Ketika raga tak lagi mampu menikmati semua
ketika khayal tak seindah biasanya
aku telah banyak kehilangan
hal yang tak pernah aku pikirkan

Dalam diam aku mencoba menafsirkan
kata demi kata yang kau ucapkan
benar atau tidaknya aku tak tahu
hingga otak memaksa untuk mencari tahu

berbagai cara kulakukan
seolah penyidik mencari pembuktian
dilema selalu sama
tiap waktunya tak pernah berhenti bekerja

seolah dilema adalah suatu keharusan
menjadi pembatas antara teruskan atau cukupkan
aku serahkan pada waktu
dimana hanya dia yang mampu

Senin, 24 April 2017

Si “Tinta Manis” : Pertemuan Yang Tak Pernah Biasa ( Bagian Kedua )

Gambar terkait
Google
Cerita Dibalik Segelas Es Krim Pot
Selama berlibur dirumah selalu kupikirkan cara dan kesemptana untuk bertemu dengan si “Tinta Manis”. Namun tak jua muncul ide yang tepat dan tinggi keberhasilannya. Getar notifikasi ponsel mengaburkan pikiran ku. Ternyata kawan satu kelas di SMA dulu Mey dan Nisa ingin bertemu. Akhirnya aku putuskan bahwa besok bertemu di tempat ek krim pot saja. Boleh dibilang pada saat itu di tempatku sedang trend nya anak muda menikmati es krim pot bersama rekan atau pacarnya.  

Sayang terlalu lama di bumi Tahu, menjadikan aku tak ingat jalan-jalan yang ada disini. Begitu pula dengan tempat yang ingin di tuju, Mey dan Nisa pun tak tahu dimana rimbanya tempat tersebut. Mbah google pun tak tahu dimana tempat tersebut, membuat sedikit frustasi.
Aku teringat dengan si “Tinta Manis” yang rumahnya dekat dengan tempat tujuan ku. “Kenapa tak kuajak saja sekalian” pikir ku. Mey dan Nisa pun setuju mereka juga ingin bertemu si “Tinta Manis”.
Okay dan aku pun segera menuju rumah si “Tinta Manis”, akh sekali lagi kekikukan datang menghampiri membuat keledai merajai isi pikiran. Lupa aku jalan menuju rumahnya sahut ku kepada dua kawan ku itu. Mey dan Nisa tak tahu jua dimana rumahnya si “Tinta Manis. Aigo, “kenapa tak kau hubungi saja dahulu” saran Mey, “aku tak punya kontaknya mey” Jawabku. “Akh bisa saja bukannya sering berhubungan ?” Tanya nya seraya tersenyum mengejek. Terpojok dengan pertanyaan tadi aku tak bisa mengelak. “Iya aku coba” singkatku.

 Langsung ku hubungi si “Tinta Manis”, namun tak di jawab. Ku cpba berulang kali sama saja tak ada jawaban. Lelah , aku coba tanyakan kepada teman ku yang tahu rumah nya si “Tinta Manis”. Sudah kudapatkan namun aku tak tahu, ku ingat-ingat lagi, dulu aku pernah mengantarnya pulang. Dan akhirnya sampai di depan rumahnya. Namun aku tak ingat persis yang mana rumahnya. Aku pun menyakan kepada seorang wanita paruh baya yang sedang mengobrol di luar rumah yang ternyata beliau adalah mama nya. Agak terkejut dalam batin ku, beliau lantas mengantarkan ke rumah dan memanggil si “Tinta Manis”.
Lama kami bertamu, ya walupun tamu yang tak diundang. Banyak hal yang kami bgi bersama di senja itu. Dari mulai cerita ketika masa-masa SMA dahulu hingga pengalaman-pengalaman masa setelahnya. Bagaimana dengan diriku ?, seperti biasanya kekikukan yang menyelimuti. Tapi sekarang sudah lebih santai Karena taka ada yang mengejek lagi.
Waktu terus berlalu hingga sampai di penghujung adzan maghrib. Aku katakan saja kepadaMey dan Nisa seharusnya kita sudahi pertemuan hari ini  malam mulai menyapa tandasku. Begitupun ajak Nisa yang sudah terlihat ngantuk.  Dan hari itupun ditutup dengan perpisahan kami dengan si “Tinta Manis”.
Hasil gambar untuk cinta
Google
“Pertemuan yang sederhana adalah ketika senyum ku dan senyum mu, begitu mandiri saat-saat itu.”

 Malam Yang Bercerita

Satu minggu sudah aku melewatkan masa liburku di rumah. Tak ada yang tak dikenang dalam memori. Baik kejadian-kejadian sendiri ataupun memori kolektif pertemuan diriku dengan si “Tinta Manis”. Senin aku kembali ke Jatinangor, tempat dimana diri ditempa untuk menanggung masa depan.
Dalam perjalanan ke Jatinangor pikiran ini tak mau berhenti untuk berkisah. Diari kecilku tak cukup untuk menampung semuanya.  Hingga aku tambahkan dengan selembar A4 pun tetap tak mampu menampung semuanya. Sepanjang perjalanan aku memikirkan banyak hal, samapai otak ku serasa sedang di ujung hidupnya.
Tak hanya memikirkan persoalan di kampus tercinta, akan tetapi lebih banyak tentang persoalan yang kutemui di perjalanan dan juga perihal yang sedang actual. Di saat bus yang aku tumpangi melintasi pegunungan kapur di Padalarang, sermepak mata ini tertuju kepada tambang pasir yang mengotori mata ini. Kepulan asap mesin membuat pemandangan hijau royo-royo bias.
Aku ingin marah dalam pikiranku “kenapa manusia seenaknya mengeksploitasi alam, seenaknya menguasai alam atas nama sendiri. Padahal alam tercipta dan terkembang untuk seluruh umat manusia”. Hanya bisa geram saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepentingan didalam penguasaan alam kiranya menjadi hal yang biasa di belahan bumi ini. Mungkin tak pernah ada permisi kepada yang memiliki. 
Empat jam perjalanan telah berlalu, bus itu membawaku ketempat tinggal ku, Pondok Angsana. Namun tak bisa di elakkan aku harus ke kampus mengurusi berkas pendaftaranku di Unit Kegiatan Mahasiswa ( UKM ). Kebetulan UKM yang aku ikuti sedang melaksanakan rekrutmen, sebelumnya sudah kupersiapakan berkas pendaftaran jauh-jauh hari.
Baru senja aku kembali ke kasur empuk ku, kelelahan merajai tubuh ini. Tapi masih ada aktivitas yang harus aku lakukan. Design untuk acara belum selesai aku buat, padahal deadline waktu penerbitannya sebentar lagi. “Sudah lah, ku selesaikan saja semua malam ini”.
Selepas isya ku nyalakan laptop dan mulai mengerjakan apa yang harus ku selesaikan. Satu demi satu design ku selesaikan. Tak sulit, namun perlu ketelitian dan waktu untuk menyelesaikannya.  Hingga dipenghujung malam aku mampu menyelesaikan itu semua.

Rabu, 18 Januari 2017

Si Tinta Manis : Pertemuan yang tak pernah biasa

Hasil gambar untuk pertemuan
Entah ini hanya kebetulan atau sudah menjadi takdir, pertemuan kita ku anggap tak pernah biasa. Bagaimana tidak sebagus-bagusnya rencana pada akhirnya berakkhir jauh dari khayalan. Tidak pernah aku duga dan tidak seidikitpun aku cium aroma tak sedap kepada jalannya rencana.
Baik pertama kali kita bertemu di Ibu Kota Provinsi sana ataupun di tempat rencana pertemuan lain kita. Hal-hal yang berbau mistis imagis sepertinya dalang dibalik semuanya. Sepuas hati ingin tertawa lepas jika ku bongkar satu persatu cerita didalamnya.
Baiklah, aku mulai dari awal perjumpaan kita selepas tak saling sua dalam banyak purnama.
Di saat dimana aku mengorbankan waktu dan pikiran untuk melanjutkan tuntutan hasrat keingintahuna dalam belajar, aku merasa tak eprnah lepas dari persoalan asmara. Padahal aku sudah tak lagi mersakannya sejak putusa dari dia yang sudah bahagia disana.
Dalam benakku , sudah cukuplah kurasakan derita dari dewi asmara. Namun sayangnya tak bias ku elak kan diri dari nya yang senantiasa mengejar dan memburu ku dengan panahnya.
Lembaran tak menyenangkan persoalan dengan “cinta” adalah yang sudah tak lagi ku acuhkan akhir2 ini. Di ujung purnama oktober, setiap saat kala pesannya datang aku tunjukan ke gelisahanku kepada malam. Ku dekatkan diri kepada angina yang berhembus kala itu, menyejukan jiwa hingga rasa otak kembali berjalan sesuai irama.
Sebelum aku lanjutkan, aku perkenalkan dia dalam cerita ini. Aku panggil ia “tinta manis”, seorang dara kelahiran awal bulan pahlawan dimana Mallaby tewas oleh semangat juang muda arek-arek Surabaya dengan tahun dimana awal kriris moneter menggerogoti sendi-sendi Ibu Pertiwi. Ia lahir dengan bawaan manis, tersirat dalam senyumnya yang selalu membuat skeptis hati ini. Tumbuh menjadi seorang dara yang menyihir beberapa kawan ku hingga mereka terjerembab kedalam pusaran asmaranya.
Pendahuluan yang biasa
Awal perkenalanku di tahun pertama karena tak sengaja, mungkin aku akan berterima kasih kepada kawan-kawan ku yg  pernah menjadi dua dengannya. Ketika peryama kali kun kena, rasa-rasanya seperti biasa saja, sama seperti ku kenal dara lain yang ada di sekolah kala itu.
Mulai menanjak ke tingkat dua aku sudah tak sendiri, sudah ada perasaan yang masuk dalam hari-hari ku. Dia itu tak lain adalah “dia” yang telah bahagia disana. Hari demi hari waktu selalu iri dengan perasaan ku kepada “dia”.
Sementara si “tinta manis” tetap bersama dalam satu atap yang sama dalam organisasi siswa. Aku menjadi wakil ketua kala itu. Tak banyak yang ku bicarakan dulu kepadanya hanya obrolan ikhwal seperti kawan sedia kalanya. Canda tawa dan cerita dunia remaja acap kali selalu menjadi bahan obrolam menyenangkan.
Hingga tak terasa tingkat tiga aku duduk, dan masih seperti sedia kalanya walaupun saat itu obrolan kami menyempit ke arah masa depan pasca tingkat tiga. Sampai saat itu aku masih dengan “dia” dan harapan selalu ada padanya. Selepas waktu berjalan sampai kepada suatu hari dimana perpisahan dengan kawan tercinta, aku selalu bertnaya kemana arah bentuk pertemanan kami semua. Dimana semuanya berpisah ke berbagai hal yang masing-masing tujukan.
Aku sendiri melanjutkan sekolah ke Jatinangor, tempat yang awam ku ketahui tepatnya di kaki gunung manglayang. Cuaca yang panas namun sejuk udaranya ku amini sebagai ganti dari keawanaman ku. Dari masa kepindahanku kesini awal dari pecahnya arah harapan kepada “dia”.
Seberapapun kuatnya dirimu meyakinkan kepada diriku akan betapa cerahnya “kita” nanti, aku tak jua merasa tenang dan selalu gelisah. Waktu pun berganti, purnama demi purnama datang silih berganti menyambut resesnya peresaan antara aku dan “dia”. 

Sementara itu hubungan ku dengan si “tinta manis” terhenti di ujung perpisahan lalu. Ia tengah belajar ilmu pertanian di Ibu Kota Provinsi sana sedangkan aku berkutat dengan dinamika waktu dan arsip Belanda.
Pada akhirnya kertas yang ku tulis bersama perasaan ku kepada “dia” semakin lama semakin tipis dan mulai pudar isinya. Aku sudah tak berhubungan via apapun selama purnama masih berganti. Tersirat dalam benakku untuk tak lagi memikirkan apa yang tuhan beri cinta kepada manusia dan merawatnya hingga waktunya tiba. Aku mulai pisahkan “dia” dengan dunia ku, dan mulai bersikap selayaknya kawan kepada kawan lainnya. 

Minggu, 27 September 2015

Romansa Dunia

Hanya romansa dunia kiranya yang menghambat kita
Dari berbagai celah dan fakta kemunafikan
Romansa dunialah yang menjadi candu
Merugikan raga jatuh kedalam pelukan nestapa

Tidak bisakah jalan yang ada menjadi lurus saja
Tak bisakah dunia hanya sekejap mata
Kiranya hanya belaian sang pencipta dan karunia-Nya
Manusia bisa lepas dari cengkraman romansa dunia

Penting atau tidaknya kisah hidup dunia
Kembali kepada bagaimana kita menjadi perannya
Disatu sisi gelap dan terang saling menghempaskan
Disisi lainnya mereka akrab bercengkrama

Dibalik kulit dunia tersimpan rasa pedih dari masa lampau
Terbiakan dari dosa-dosa manusia terdahulu
Hingga nanti hari pembalasan tiba
Duka lara dari para pemain lama kembali dibawa

Entah baik atau tidaknya watak mereka
Kembali kepada bagaiamana permainan mereka
Jika manusia diciptakan lurus saja
Apa jadinya ketentuan yang sudah ada

Makna dari titipan sang khalik
Makna dari sentuhan semesta
Dari balik pintu hati
Harusnya mata merenung dalam do'a

Jika nanti mati memisahkan kita dan romansa dunia
Janganlah sertakan hal buruk dalam perenungan kita
Jika nanti segalanya menjadi bias dimata kita
Coba renungkanlah bagian mana yang jadi benalu kita