Tampilkan postingan dengan label Sudut Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sudut Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 April 2019

Sebuah Jalan Penuh Alasan : Keraguan Berpolitik


Berkomentar tentang politik pada tahun politik memang cukup menyita energi. Apalagi acap kali menemukan individu atau kelompok yang saling menyudutkan satu sama lain. Padahal perbedaan itu salah satu nikmat yg harus disyukuri. Namun, banyak orang yang memandang berbeda.

Pada tahun politik ini aku sempat bersitegang dengan beberapa individu yang mengatasnamakan diri sebagai pendukung paslon 01 dan 02. Aku sebagai orang yang tidak memihak kepada siapapun selalu berusaha medudukan diri ditengah-tengah. Mengamati proses yang sedang berlangsung seraya melihat apa saja yang ditawarkan oleh masing-masing kubu.

Sampai saat ini mungkin aku termasuk orang yang naif, seringkali berbicara tentang proses politik namun belum memutuskan untuk terjun pada dunia itu. Hal tersebut sebetulnya bukan tanpa alasan, mengingat aku memang tidak tertarik untuk mencelupkan diri. Aku lebih memilih duduk dibangku penonton dan menikmati suguhan pertunjukan politik dari rekan-rekan politikus senior atau rekan-rekan sejawat yang sudah bermain dalam dunia politik.

Namun, benar apa yang dikatakan Plato, kita memang tidak bisa dipungkiri sebagai  homo politicus yang terlahir dengan elemen politik didalamnya. Dan begitupun denganku,  Aku tetap memiliki hasrat politik yang sama seperti rekan-rekan yang lain. Bedanya, aku memendam hasrat itu begitu dalam. Hingga akupun lupa kapan akan mengeluarkan semuanya.

Terkadang, dalam benakku selalu muncul rasa iri melihat rekan-rekan yang mampu menghabiskan waktu lama dengan lawan bicara politiknya. Apalagi orang-orang yang punya jiwa muda, seakan ada api idealisme yang berkobar pada sorot mata mereka.

Suatu waktu, aku bertemu dengan kawan lama yang sudah banyak membicarakan tentang politik praktis yang sudah lama kuhindari. Begitu terobsesinya dia untuk menjadi bagian dari pesta politik hingga menempuh banyak jalan untuk sampai ke pesta tersebut. Aku selau mengamati apa yang dia lakukan, terus terang saja aku muak ketika ia datang dengan topik yang sama berulang-uang. Namun, tidak sama sekali memilikki mimpi yang lebih besar ketimbang menjadi orang-orang yang duduk di kursi parlemen. Bahkan, terkadang hal tersebut acapkali dijadikan sebagai guyonan yang menurutku itu menjengkelkan.

Namun, di sisi lain aku prihatin dan sangat bersimpati. Bukan karena apa yang ia inginkan namun pada nasibnya kelak ketika tahu lebih jauh dan merasakan sendiri begitu kerasnya dunia politik. Saat dia sendang bicara Aku mengamati, terlihat dari sorot matanya terlintas keraguan yang besar ketika aku membicarakan hal-hal kotor yang akan menimpanya.

Bagiku, politik itu bukan seperti dunia serius yang selalu kita pegang erat-erat seperti memutuskan tali mana yang akan kita pegang selamanya. Banyak hal yang tidak bisa diprediksi dan terlalu prediktif dan percaya adalah hal yang bodoh. 

Aku ingat pepatah politik lama “Tidak ada musuh dan kawan abadi dalam dunia politik yang ada hanya kepentingan yang abadi”. Sungguh absurd memang dunia politik itu, entah suka atau tidak itu lah akhir dari apa yang akan didapat ketika menyelam didalamnya.

Aku selalu mewanti-wanti kawanku  dengan pepatah “Kalah menjadi abung menang menjadi arang”, pilihan itu yang akan menghantui setiap langkah politik yang diambil.
Karena dalam dunia politik kita tidak melulu soal idealisme yang menggebu-gebu, ada banyak kompromi menyertainya. Terkadang hal itu mungkin busuk bagai buah mengkudu, namun ada sela-sela yang memiliki jalan yang manis seperti madu.

Itu lah konsekuensi, jujur saja aku belum sampai ketahap itu. Belum cukup bekalku untuk mampu bertahan, jika aku paksakan hanya penyesalan yang akan didapatkan.



Paris van Java, 7 April 2019

Max Verstehen




Minggu, 22 April 2018

Tradisi dan Perubahan Persepsi 21 April


Hasil gambar untuk kebaya kartinian
Ilustrasi Fashion Show dengan Kebaya
21 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kartini. Euforia yang berlangsung sangat meriah diberbagai penjuru daerah di Indonesia. Berbagai kegiatan dilakukan untuk memperingati Hari Kartini. Dari mulai lomba memasak, bernyanyi, hingga fashion show.

Ada yang selalu terlihat dalam euphoria tersebut, yaitu kebaya, sanggul, dan kain batik. Seolah menjadi sebuah budaya di masyarakat, semua itu merupakan hal yang wajib ada setiap peringatan hari Kartini. Hal tersebut pun menjadi sebuah keharusan bagi perempuan dari usia belia hingga dewasa.

Saya melihat hal yang membosankan dari tahun ketahun. Momentum hari kartini selalu diisi dengan lomba fashion show. Anak-anak tak luput dari euphoria ini, dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas semuanya bersolek untuk menjadi yang paling cantic dengan kebaya, sanggul. Dan kain batik nya.

Tentu saja hal ini mengherankan, bagi saya hal tersebut membuang-buang tenaga, pikiran, dan tentu saja uang, karena pastinya untuk bersolek diri mereka pergi ke salon dan membutuhkan waktu berjam-jam. Sungguh tradisi yang mempersulit diri sendiri.

Tradisi kebaya di Hari Kartini muncul di masa Orde Baru, dimana 21 April dirayakan dengan pesan, bagaimana perempuan harus mencitrakan diri seperti apa yang dipakai Kartini (  https://nationalgeographic.co.id/berita/2018/04/kartini-kebaya-dan-salah-paham-makna-perjuangan-perempuan diakses pada 21 April 2018 ). Hal tersebut membuat saya berpikir panjang, bagaimana busana yang Kartini pakai merepresentasikan jiwa Kartini itu sendiri, lantas bagaimana dengan pemikiran dan gagasan mengenai pendidikan bagi perempuan Indonesia ?. Apakah hal tersebut bukan merupakan hal yang penting untuk menjadi sebuah pedoman di masa sekarang ?.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan sebuah kekecewaan saya terhadap segelintir kelompok yang terus memegang tradisi demikian.  Tradisi feudal yang berdiam cukup lama dan terus dipertahankan hingga sekarang. Padahal ruang untuk mengekspresikan nilai-nilai perjuangan kartini begitu besar. Mulai dari organisasi sosial bagi perempuan muda dan dewasa atau menggiatkan literasi bagi murid-murid Sekolah Dasar.

Persepsi tentang siapa itu Kartini dan perjuangannya demi kesetaraan posisi dan tempat perempuan di masyarakat kiranya perlu dirubah oleh masyarakat millennial. Pemaknaan terhadap perjuangan Kartini akhirnya terjebak dalam simbol visual yang secara fisik adalah Kartini. Bukan perjuangannya. Bahkan tidak sedikit pihak-pihak yang menggunakan Kartini sebagai media promosi. Bentuk visualisasi Kartini digunakan oleh pegiat bisnis untuk menarik pembeli. Sungguh tega bangsa kita memperlakukan seoarang Pahlawan Nasional sebagai bahan bakar komersil.

“Berhenti”, mulai dari sekarang sebagai generasi millennial hal ini harus berubah tradisi tersebut harus dikikis. Dimulai dari menghilangkan persepsi bahwa untuk menghargai Kartini harus ber-kebaya setiap 21 April. Hal ini bisa dilakukan dari tingkat Sekolah Dasar yang meprioritaskan kegiatan membaca dan menulis surat atau puisi untuk memperingati hari Kartini.

Dan tentu saja hal ini harus dimulai secepat mungkin, sehingga nilai-nilai perjuangan Kartini tidak hanya diisi oleh kemolekan perempuan dalam kebayanya. Tapi terlihat dari sisi kemajuan dan intelektualitasnya.


                                                                                    Atas nama generasi Millenial


Max Verstehen



Senin, 16 Oktober 2017

The Killing Act of Satanis


Film horror thriller yang menyita perhatian para penggemar film genre horror tahun 2017 ini “Annabelle : Creation akhirnya tayang pada september lalu. Film ini merupakan prekuel dari film “The Conjuring” dan “Annabelle”. Film yang sangat menarik mengkisahkan pembuatan boneka yang ternyata dirasuki oleh iblis akibat perjanjian antara setan dengan tokoh orang tua dalam film.
Pada akhir cerita Janice yang merupakan tokoh sentral yang dirasuki oleh iblis dalam film tersebut menghilang. Kemudia pada scene selanjutnya digambarkan akan diadopsi oleh sebuah keluarga dengan nama baru yaitu Annabelle. Pada akhir film Annabelle bersama pacarnya yang sama-sama merupakan anggota sekte penyembah setan  membunuh kedua orang tua angkatnya  dengan cara yang sadis sebelum akhirnya bunuh diri.

Richardo aka Ricky Kasso
Ternyata kisah pembunuhan yang berdasar pada spirit satanisme tidak hanya terjadi pada skenario film. Di dunia nyata kejadian yang hampir sama pernah terjadi dan menggemparkan dunia. Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Ricky  Kasso, Rodrigo Orias Gallardo, atau kisah ritual satan Band Metal Hatred meurpakan segelintir kasus pembunuhan yang dianggap bagian dari ritual satan.
Pada tahun 1984 Ricky  Kasso, seorang anak berumur 17 tahun dengan sadis membunuh temannya Gary Lauwers di sebuah hutan pedesaan di Northpord Long Island, New York. Hasil saduran dari laman http://www.nytimes.com/1984/07/08/nyregion/youth-found-hanged-in-li-cell-after-his-arrest-in-ritual-killing.html?pagewanted=all menjelaskan kronologis kejadian pembunuhan. Dimulai ketika Kasso dan Gary sedang berada di sebuah Pesta, Kasso kehilangan obat-obatan terlarang miliknya dan menuduh Gary telah mengambil obat-obatan tersebut.

Kasso kemudian berniat membalaskan dendam kepada Gary dengan mengajak Gary ke sebuah hutan pedesaan di Northpord Long Island, New York. Disana Gary dibunuh dan dimutilasi oleh Kasso kemudian untuk menghilangkan jejak, pakaian Gary dibakar kemudian jasadnya dikubur.
Periwtia ini terbongkar karena adanya laporan hilangnya Gary Lauwers oleh orang tuanya. Kemudian polisi mencurigai Ricky  yang merupakan orang yang terakhir bersama dengan Gary. Polisis pun menemukan jasad Gary di Northpord. Ricky Kasso pun ditangkap karena dituduh melakukan pembunuhan keji tersebut. Menurut beberapa artikel saat Ricky hendak membunuh Gary, ia mengatakan “Say you Love Satan” tapi Gary mengatakan “I love my mom” dan dia pun mati.
Berbeda dengan kasus Ricky Kasso, Rodrigo Orias Gallardo yang dikenal sebagai seorang penggila musik metal merupakan pemuja setan. Kegilaannya terhadap satan terlihat dari tato pentagram dilengan kirinya serta aksesoris berbau satan lain yang selalu dipakainya. Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Gallardo terhadap seoarang pendeta bernama Faustino Gazziero pada tahun 2004 di Chile sempat menggemparkan dunia. Setelah membunuh Gallardo dan melakukan ritual satan dengan merasakan darah dari korban dia kemudian bunuh diri. Jika dianalisa pembunuhan tersebut bisa jadi dilatar belakangi karena kebencian satan terhadap gereja yang dianggap menghambat ritual pennyembah satan yang jelas bertentangan dengan dogma agama manapun.  

Hasil gambar untuk satan murder
Ilustrasi Satan Band
Kasus yang tidak kalah sadis adalah pembunuhan dan penyiksaan terhadap seorang gadis  berumur 15 tahun bernama Elshey Pahler. Pembunuhan keji ini dilakukan oleh grup band metal Hatred. Jacob Delashmutt, Joseph Fiorella and Royce Caseyyan tergabung dalam grup band Hatred asal California, membuat suatu kejutan untuk mempopulerkan namanya. Caranya dengan melakukan ritual satan dengan membunuh dan menyiksa Elshey Pahler. 

Kejadian mengerikan tahun 1995 di California ini mengguncang Negara bagian di barat Amerika Serikat tersebut. Kegilaan yang dilakukan grup band Hatred memang menjadikan nama mereka popular namun untuk membayar kejahatan yang mereka lakukan otoritas setempat menangkap mereka dengan dakwaan pembunuhan berencana terhadap anak dibawah umur.

Pembunuhan yang dilakukan atas dasar pemujaan terhadap satan pada dasarnya memantik diskursus panjang mengenai satanisme itu sendiri. Di dunia underground sana pengikut satan ternyata banyak, disekitar kita tidak jarang simbo-simbol satan seperti pentagram, angka 666, atau kepala kambing dianggap sebagai upaya peng-eksistensian satanisme muncul dan dikonsumsi oleh masyarakat.

Hal tersebut tanpa disadari oleh anak muda sebagai trend yang harus diikuti terutama pada kelompok penyuka aliran musik hardcore, metal, heavy metal, dan metal satanic. Padahal simbol yang mereka konsumsi dalam bentuk pakaian dan aksesoris merupakan label yang menunjukan antusiasme terhadap  satan. Seperti halnya lambang palu arit yang disimbolkan sebagai lambang PKI yang dibenci oleh kebanyakan masyarakat. 

Senin, 17 Juli 2017

Taman Baca Panggung Inspirasi Sebuah Alasan Membentuk Pondasi

Berdasarkan penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) 2012, Indonesia ada di peringkat 60 dengan skor 396 dari total 65 peserta negara untuk kategori membaca. Sementara skor rata-rata internasional yang ditetapkan PISA adalah 500 ( www.sindonews.com ). 


Peringkat ke-lima dari belakang, sebagai orang Indonesia saya mengamini hasil penelitian tersebut dan merasa memang tingkat budaya literasi bangsa kita masih lemah. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura saja pasti masih kalah jauh. Apalagi jika dibandingkan dengan Finlandia, Jerman, atau Australia sekalipun. Rendahnya budaya literasi di Indonesia berkaitan dengan minat baca dan kemampuan dalam menulis. Meskipun dari tahun ketahun angka buta huruf sudah semakin kecil, namun kebiasaan untuk membca dan menulis belum menjadi sebuah kegandrungan. 
Saya menyadari sendiri, bahwa saya hanya rajin membaca namun mandek dalam menulis. Permasalahan yang mendera saya pada saat itu adalah kurangnya motivasi dan wahana untuk mengembangkan diri dalam menulis. Berbeda ketika saya menginjak dunia kampus, dimana budaya literasi tumbuh sedikit demi sedikit karena faktor lingkungan yang memaksa kita untuk melakukan hal tersebut. Hasilnya adalah saya sudah rajin menulis baik itu prosa, opini, resensi, ataupun karya tulis ilmiah. Jadi, proses pemaksaan diri untuk membaca dan menulis ini didorong pula oleh lingkungan. 
Sementara itu, dalam budaya masyarakat kita terutama di daerah, kebiasaan untuk membaca dan menulis sangat rendah. Hal ini di latar belakangi karena lingkungan yang tidak mendukung untuk melakukan hal tersebut. Dimana ada hal lain yang lebih dipilih ketimbang harus berurusan dengan pena dan kertas. Contohnya di tempat yang menjadi latar belakang dibukanya TBM Panggung Inspirasi, Desa Cangkudu Kec.Balaraja. Meskipun daerah nya merupakan areal industri yang secara ekonomis memiliki dampak besar dalam pembangunan perekonomian wilayah setempat ternyata tidak serta mertas menjadi pilar pendukung kemajuan dalam pendidikan utamanya peningkatan budaya baca tulis. 
Program perpustakaan keliling yang mulai diterapkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah juga tidak mampu untuk mendorong minat baca tulis masyarakat. Kepedulian pemerintah sebetulnya sudah lama termanifestasi dalam beberapa kebijakan tepat guna. Namun sayangnya infrastruktur dan suprastruktur belum memadai sehingga kebijikan yang digulirkan bak gayung tidak bersambut. 
Sudah banyak kiranya Taman Baca Masyrakat yang dibangun dengan impian dan cita-cita meningkatkan kemapanan masyarakat dengan merangsang minat baca masyarakat. Sayangnya masyarakat kita khususnya masyarakat Balaraja cenderung masih berorientasi pada ekonomi praktis bukan ekonomi pembangunan yang dasarnya harus jelas dan matang. 
Namunm sebuah upaya inisiasi dalam membentuk karakter generasi muda dan pengaktualisasian budaya membaca harus selalu dibangkitkan walaupun dampaknya belum signifikan, Bayangkan jika di sebuah kelurahan atau desa terdapat 10 perpustakaan atau taman baca, setidaknya 10 persen dari masyarakat akan mendatangi tempat tersebut. Meskipun tidak semua kalangan akan datang namun anak-anak hingga remaja yang banyak memiliki waktu luang pasti akan berbondong-bondong untuk datang, apalagi ada kegiatan secara berkala yang dilakukan untuk menarik minat baca masyarakat.
Hal inilah yang mendorong didirikannya Taman Baca Panggung Inspirasi. Dimana pondasinya berada pada keyakinan bahwa masyarakat harus memiliki wahana untuk membaca, tempat yang layak untuk belajar, dan juga buku untuk menutrisi isi kepala.


"Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.” 

Minggu, 16 Juli 2017

Komodifikasi Program Pendidikan Karakter dalam Sapta Usaha Tama Era Orde Lama untuk Menghadapi Tren Budaya Global Masa Kini

Masih hangat beberapa kasus di tahun 2017 yang melibatkan pelajar baik dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Dari mulai permasalahan penyalahgunaan narkoba, tindak asusila, kekerasan, merebaknya pornografi, hingga aksi bullying dan persekusi terhadap pelajar. Hal-hal tersebut merupakan imbas dari gelombang globalisasi yang didorong oleh kemajuan teknologi sehingga masyarakat khususnya pelajar dapat mengakses segala sesuatu hanya lewat sentuhan jari.
Tren yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Negara masuk dan merusak mental generasi millennium. Dari gaya berbicara, berbusana, hingaa berbahasa setiap kali tren baru muncul nampaknya anak-anak di negara ini selalu up to date. Bagus jika hal tersebut merupakan tren positif,  namun sayangnya kebanyakan tren tersebut bersebrangan dengan nilai kearifan lokal.
Hasil gambar untuk kesejahteraan petani
Penulis ambil contoh tren ber tanda pagar “challenges” yang kerap kali muncul dan kebanyakan berasal dari barat. Di beberapa challanges yang pernah muncul dan viral di dunia maya memang membuat tren positif namun tidak sedikit pula yang membawa stigma negatif. Contohnya tanda pagar naik turun challenges, ketika kita melihat dari sisi budaya hal ini berkaitan dengan budaya pop yang ada di Indonesia yaitu musik dan tari-tarian. Namun di satu sisi dalam beberapa unggahan yang pernah penulis lihat banyak sekali yang menabrak nila-nilai moral dan cenderung menjurus pada pornoaksi.
Hal ini membuat penulis khawatir tentang masa depan generasi millennium yang notabene adalah generasi penerus tongkat estafet kepemimpianan bangsa. Mahatma Gandhi pernah memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “pendidikan tanpa karakter”.  Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Kecerdasan plus karakter itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya”. Semantara itu Bapak Pendidikan Nasional kita Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa tujuan pendidikan bangsa harus berpilar kepada Cipta, Rasa dan Karsa.
Pendidikan karakter merupakan suatu entitas yang luar biasa berpengaruh untuk perkembangan seseorang. Pengalaman penulis sejak SD hingga SMA selalu dicekoki oleh nilai-nilai yang berasal dari Ideologi Negara dan norma-norma dalam masyarakat. Hal tersebut membuat penulis kebal dengan tren-tren masa kini yang terkadang membuat khawatir para orang tua. Pun begitu juga dengan para orang tua yang mendapat pendidikan pada era orde baru ataupun orde lama sepertinya kebal dengan tren-tren masa kini.
Pada era Orde lama muncul sistem pendidikan yang dinamakan Sapta Panca Utama. Sistem pendidikan ini dalam beberapa poin masih diimplementasikan oleh masyarakat luas contohnya adalah upacara bendera dan peringatan hari penting nasional. Namun sayangnya dalam beberapa poin penting seperti usaha pencerdasan masayrakat lewat ilmu terapan dan pendidikan karakter dalam program kelas masyrakat belum konsisten sehingga poin tersebut gagal.
Dengan mengedepankan masalah pendidikan karakter pelajar, komodifikasi terhadap program pendidikan karakter Sapta Usaha Tama yang bisa dilakukan terutama untuk menghadap tren budaya masa kini tentunya adalah dengan merevitalisasi peran Idelogi Negara dalam kurrikulum pendidikan . Hal ini bisa ditambah dengan memperbanyak kegiatan wajib bertemakan kebangsaan dan pembentukan karakter. Untuk monitoring perlu juga diadakan seringnya kelas konseling dan mentoring sehingga kontrol terhadap mental dan moral pelajar bisa dipantau.

Dan pada akhirnya setiap usaha yang coba diperbuat untuk memajukan pendidikan adalah suatu hal  yang wajib dilakukan. Tidak peduli sesulit apa dan semahal apapun caranya, demi kemjuan pendidikan bangsa Indonesia penulis yakini segala hambatan adalah nyata untuk ditaklukan. Semoga bangsa kita semakin kreatif dan inovatif dalam memajukan pendidikan dan tentu saja tetap berpilar pada Cipta, Rasa dan Karsa.

Prostitusi di Kota Seribu Industri


            Prostitusi secara istilah merupakan usaha pelacuran atau pelayanan seks. Prostitusi atau pelacuran itu sendiri sudah ada sejak masa Kolonial. Praktik prostitusi pada masa VOC atau Hindia Belanda dilatar belakangi kebutuhan orang-orang eropa yang awalnya tidak membawa istri-istri mereka, sehingga butuh pelampiasan birahi sehingga memilih untuk mengawini wanita pribumi baik untuk dijadikan sebagai istri atau hanya sebatas gundik. Praktik prostitusi ini tersebar di daerah pantai utara khususnya kota-kota penting seperti Batavia, Semarang sampai Surabaya. Bisnis ini didukung oleh pemerintah kolonial. Sisa-sisa masa lalu masih ada hingga era modern sekarang ini, walaupun tempat semacam Dolly, Saritem, Kramat Tunggak, dll. sudah digusur dan dibangun fasilitas lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat namun masih ada praktik prostitusi yang berlangsung meski terselubung.   
            Prostitusi atau pelacuran merupakan penyakit masyarakat,  tidak mudah untuk memusnahkan praktik tersebut dari kehidupan masyarakat. Banyak faktor pendukung terjadinya prostitusi mulai dari faktor ekonomi, sosial, maupun psikologi dari penjaja dan juga peminat prostitusi. Ada juga orang yang beralasan karena untuk menghindari atau melampiaskan emosi sehingga seseorang yang mengalami masalah merasa ingin melakukan segala sesuatu sesuai kehendak hatinya sebagai luapan emosi atau hanya sekedar ingin memuaskan dirinya. 
       Faktor lingkungan, disini lingkungan memegang andil sangat penting dalam pembentukan kepribadian seseorang, walaupun keluarga merupakan faktor pembentuk kepribadian yang utama tetapi tidak menutup kemungkinan lingkungan juga bertindak dalam pembentukan kepribadian seseorang, Selain itu juga ada factor pengaruh ekonomi dimana seorang yang berprostitusi merasa bahwa hanya itu yang bisa dilakukan untuk menyambung hidup.
            Tangerang yang merupakan daerah penyangga Ibukota mempunyai penyakit sama yang tidak bisa dihindari dari sisi gelapnya perkotaan yang merembet hingga daerah sekitar. Awal mulanya muncul lokalisasi di Tangerang karena dibubarkannya lokalisasi besar macam Kramat Tunggak, Gajah Mungkur, Saritem, dan Dolly. Kebanyakan dari pengusaha atau penjaja seks tersebut mencari daerah lain sebagai tempat membuat usaha baru terutama daerah kota besar. Tangerang yang notabene adalah daerah perindustrian pastinya menjadi daya tarik bagi para mucikari.
            Lokalisasi terbesar di Tangerang adalah lokalisasi dadap yang terletak di kecamatan kosambi, Kabupaten Tangerang. Lokalisasi ini merupakan tempat para penjaja cinta sejak tahun 80-an. Namun namanya melambung ketika tempat lokalisasi lain seperti dolly ditutup. Bahkan banyak dari pekerja seks yang pindah dari dolly ke dadap.
            Respon dari masyarakat terhadap lokalisasi ini juga mempengaruhi kelangsungan lokalisasi ini. Masyarakat sekitar cenderung biasa-biasa saja, ada juga yang menyewakan kamar untuk para penjaja seks. Namun demikian tidak sedikit yang protes dan menginginkan ditutupnya lokalisasi ini.
            Walaupun kecaman dari segala pihak terhadap prostitusi telah cukup untuk memberikan peringatan keras terhadap para pelaku prostitusi, namun nampaknya hal tersebut  direspon sedikitpun oleh para pelaku prostitusi , malah prostitusi semakin marak dan tidak mengenal kota ataupun desa. Sepertinya hal tersebut sudah tidak lagi tabu untuk dibicarakan. Bahkan permasalahan ini menjadi hal yang sangat mendapat perhatian khusus dimana penyakit HIV/ AIDS banyak menyerang masyarakat karena akibat dari prostitusi ini.

Faktor- Faktor Penyebab Terjadinya Pelacuran
            Berlangsungnya perubahan- perubahan sosial dan degredasi dalam kebudayaan, mengakibatkan ketidakmampuan banyak individu untuk menyesuaikan diri dan mengakibatkan timbulnya disharmonisasi, konflik- konflik eksternal dan internal, juga organisasi dalam masyarakat.
            Peristiwa- peristiwa tersebut memudahkan individu menggunakan pola- pola umum yang berlaku. Dalam hal ini ada pola pelacuran, untuk mempertahankan hidup ditengah- tengah hiruk-pikuk alam pembangunan, khususnya di Indonesia.
            Beberapa peristiwa sosial penyebab timbulnya pelacuran antara lain sebagai berikut :
a.       Tidak adanya UU yang melarang pelacuran. Juga tidak ada larangan terhadap orang- orang yang melakukan relasi seks sebelum pernikahan.
b.      Adanya keinginan dan dorongan manusia untuk menyalurkan kebutuhan seks, khususnya di luar ikatan perkawinan.
c.      Komersialisasi dari seks, baik dari pihak wanita maupun germo- germo dan oknum- oknum tertentu yang memanfaatkan pelayanan seks.
d.       Merosotnya norma- norma susila dan keagamaan.
e.       Semakin besarnya penghinaan orang terhadap martabat kaum wanita dan harkat manusia.
f.       Kebudayaan eksploitasi pada zaman modern ini, khususnya mengeksploitasi kaum lemah/ wanita untuk tujuan- tujuan komersil.
g.   Ekonomi laissez-faire menyebabkan timbulnya system harga berdasarkan hokum “jual dan permintaan”, yang diterapkan pula dalam relasi seks.
h.      Peperangan dan masa- masa kacau olem gerombolan- gerombolan pemberontakan di dalam negeri meningkatkan jumlah pelacuran.
i.        Adanya proyek- proyek pembangunan dan pembukaan daerah- daerah pertambangan dengan konsentrasi kaum pria, sehingga mengakibatkan adanya ketidakseimbangan rasio dan wanita didaerah- daerah tersebut.
j.        Perkembangan di kota- kota, daerah- daerah pelabuhan dan industry yang sangat cepat menyerap banyak tenaga buruh serta pegawai pria.
k.      Bertemu macam- macam kebudayaan asing dan kebudayaan- kebudayaan setempat.1

Motif- motif yang Melatarbelakangi Pelacuran
            Mengingat latar belakang Tangerang yang mengarah ke Industri, banyak orang yang ingin mengambil keuntungan dari hal tersebut. Termasuk para panjaja seks, yang berduyun-duyun datang ke Tangerang untuk mencari rejeki lewat jalan malam yang tidak mereka sadari membawa pengaruh buruk. Para penjaja seks ini berasal dari banyak daerah diluar Tangerang terutama dari Jawa Timur.
            Setelah dolly ditutup banyak dari para PSK ini eksodus ke daerah lain hingga sampai ke lokalisasi dadap Tangerang. Lokalisasi dadap ini merupakan lokalisasi terbesar di Tangerang. Banyak mucikari, germo, dan PSK yang menjajakan seks. Warga sekitarpun ikut andil dengan menyewakan kost-kostan dan menjaga parker para pria hidung belang.
Hasil gambar untuk kesejahteraan petani            Dilihat dari motivasi para penjajaj dari luar kota adalah adanya kecenderungan melacurkan diri pada banyak wanita untuk menghindarkan diri dari kesulitan hidup, dan mendapatkan kesenangan melalui jalan pendek. Kurang pengertian, kurang pendidikan, dan buta huruf, sehingga menghalalkan pelacuran.   Ada nafsu- nafsu yang abnormal, tidak terintegrasi dalam kepribadian, dan keroyalan seks. Histeris dan hyperseks, sehingga mereka tidak merasa puas mengadakan relasi seks dengan satu pria/ suami. Tekanan ekonomi, factor kemiskinan, ada pertimbangan- pertimbangan ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, khususnya dalam usaha mendapatkan status social yang lebih baik.

Akibat- akibat Pelacuran
            Beberapa akibat yang di timbulkan oleh pelacuran ialah sebagai berikut :
1.      Menimbulkan dan menyebarluaskan penyakit kelamin dan kulit. Penyakit yang paling banyak terdapat ialah syphilis dan gonorrhoe (kencing nanah).
2.      Merusak sendi- sendi kehidupan keluarga. Suami- suami yang tergoda oleh pelacur biasanya melupakan fungsinya sebagai kepala keluarga.
3.      Mendemoralisasi atau memberikan pengaruh demoralisasi kepada lingkungan khususnya anak- anak muda remaja pada masa puber dan adolensi.
4.      Berkorelasi dengan kriminalitas dan kecanduan bahan- bahan narkotika (ganja, morfin, heroin, dan lain-lain).
5.      Merusak sendi- sendi moral, susila, hokum dan agama.
6.      Adanya pengeksploitasian manusia oleh manusia lain.
7.      Bisa menyebabkan terjadinya disfungsi seksual. 1

Solusi menghilangkan prostitusi
Prostitusi merupakan masalah yang sangat pelik, menyangkut kehidupan moral bangsa. Begitu gilanya manusia dalam memenuhi masalah individual mengakibatkanmunculnya hasrat seks yang sanagat jauh dari garis norma di masyarakat. Penyalahan norma ini cenderung terjadi karena berbagai macam motif dan aspek, dari mlai sosial hingga ekonomi.
Pemerintah dalam hal ini dinas sosial telah banyak melakukan upaya untuk menyelesaikan masalah ini. Mulai dari memberi penyuluhan untuk para PSK, membuat lapangan kerja bagi PSK, samapi membubarkan lokalisasi tidak pernah terhenti praktik semacam ini. Lokalisasi yang terkenal seperti dolly, saritem, dan gajah mungkur telah hilang, namun bibitnya meneybar hingga lokalisasi dadap di Tangerang.
Seyogianya jika memang pemerintah ingin menghapuskan praktik-praktik tersebut maka harus ada undang-undang tentang larangan atau pengaturan penyelenggaraan pelacuran. Intensifikasi pendidikan keagamaan dan kerohanian, untuk menginsafkan kembali dan memperkuat iman terhadap nilai religius serta norma kesusilaan. Bagi anak puber dan remaja ditingkatkan kegiatan seperti olahraga dan rekreasi, agar mendapatkan kesibukan, sehingga mereka dapat menyalurkan kelebihan energi. Perluas lapangan kerja bagi kaum wanita disesuaikan dengan kodratnya dan bakatnya, serta memberikan gaji yang memadahi dan dapat untuk membiayai kebutuhan hidup.
Diadakan pendidikan seks dan pemahaman nilai perkawinan dalam kehidupan keluarga. Pembentukan team koordinasi yang terdiri dari beberapa instansi dan mengikutsertakan masyarakat lokal dalam rangka penanggulangan prostitusi.
Sedangkan usaha-usaha yang bersifat represif kuratif dengan tujuan untuk menekan, menghapus dan menindas, serta usaha penyembuhan para wanita tuna susila, untuk kemudian dibawa kejalan yang benar. Melakukan kontrol yang ketat terhadap kesehatan dan keamanan para pelacur dilokalisasi. Mengadakan rehabilitasi dan resosialisasi, agar mereka dapat dikembalikan sebagai anggota masyarakat yang susila. Rehabilitasi dan resosialisasi dilakukan melalui pendidikan moral dan agama, latihan kerja, pendidikan ketrampilan dengan tujuan agar mereka menjadi kreatif dan produktif.
Pembinaan kepada para WTS sesuai dengan bakat minat masing-masing. Pemberian pengobatan (suntiakan) paa interval waktu yang tetap untuk menjamin kesehatan dan mencegah penularan penyakit. Menyediakan lapangan kerja baru bagi mereka yangbersedia meninggalkan profesi pelacur, dan yang mau memulai hidup susila. Mengadakan pendekatan kepada pihak keluarga dan masyarakat asal pelacur agar mereka mau menerima kembali mantan wanita tuna susila untuk mengawali hidup barunya. Mencarikan pasangan hidup yang permanen (suami) bagi para wanita tuna susila untuk membawa mereka ke jalan yang benar, dan Mengikutsertakan para wanita WTS untuk berpratisipasi dalam rangka pemerataan penduduk di tanah air dan perluasan kesempatan bagi kaum wanita.
Kesimpulan
            Tangerang yang merupakan daerah penyangga Ibukota sekaliagus daerah Industri menyedot masyarakat luar kota untuk datang. Banyak dari pekerja dari luar kota cenderung membuka usaha yang negatif seperti usaha lokalisasi terselubung dan terang-terangan.
            Munculnya praktik prostiusi tidak lepas akarena berbagai factor yang lmelatarelkangi dan jugamotfi dari para pnejjaja seks tersebut. Pengaruh dari keluarga lingkungan, samapai kondsisi ekonomi ditengarai menjadi alasan banyak pihak melakuakan bisnis haram ini. Selain itu juga karena adanya hasrat dan perilaku seks yang menyimpang turut memberi andil bagi indivisu untuk mencari penjaja seks.
            Padahal jika kita lihat lagi lebih banyak kerugian yang akan ditimbulkan, mualai dari penyakit-penyakit kelamin yang akan menyebar lewat medium PSK atau WTS. Juga menurunnya ahlak manuisa terlebih jika memandang dalam persoalan agama seseoang.
            Sudah banyak usah dari pemrintah dalam pemenghentikan arus perkembangan industry seks ini temasuk dengan mebubarkan praktik seks seperti yang dilakuakan pada lokalisasi dolly. Namun memang insutri ini tak kan mati selama penjaja dan dan pelangga sadar bahwa paa yang mereka lakukan salah dan patut unutk dimusnahkan.


                                                                     Sumber