Cerita
Dibalik Segelas Es Krim Pot
Selama berlibur dirumah selalu kupikirkan cara dan
kesemptana untuk bertemu dengan si “Tinta Manis”. Namun tak jua muncul ide yang
tepat dan tinggi keberhasilannya. Getar notifikasi ponsel mengaburkan pikiran
ku. Ternyata kawan satu kelas di SMA dulu Mey dan Nisa ingin bertemu. Akhirnya
aku putuskan bahwa besok bertemu di tempat ek krim pot saja. Boleh dibilang
pada saat itu di tempatku sedang trend nya anak muda menikmati es krim pot
bersama rekan atau pacarnya.
Sayang terlalu lama di bumi Tahu, menjadikan aku tak ingat jalan-jalan yang ada
disini. Begitu pula dengan tempat yang ingin di tuju, Mey dan Nisa pun tak tahu
dimana rimbanya tempat tersebut. Mbah google pun tak tahu dimana tempat
tersebut, membuat sedikit frustasi.
Aku teringat dengan si “Tinta Manis” yang rumahnya dekat dengan tempat tujuan
ku. “Kenapa tak kuajak saja sekalian” pikir ku. Mey dan Nisa pun setuju mereka
juga ingin bertemu si “Tinta Manis”.
Okay dan aku pun segera menuju rumah si “Tinta Manis”, akh sekali lagi
kekikukan datang menghampiri membuat keledai merajai isi pikiran. Lupa aku
jalan menuju rumahnya sahut ku kepada dua kawan ku itu. Mey dan Nisa tak tahu
jua dimana rumahnya si “Tinta Manis. Aigo, “kenapa tak kau hubungi saja dahulu”
saran Mey, “aku tak punya kontaknya mey” Jawabku. “Akh bisa saja bukannya
sering berhubungan ?” Tanya nya seraya tersenyum mengejek. Terpojok dengan
pertanyaan tadi aku tak bisa mengelak. “Iya aku coba” singkatku.
Langsung ku
hubungi si “Tinta Manis”, namun tak di jawab. Ku cpba berulang kali sama saja
tak ada jawaban. Lelah , aku coba tanyakan kepada teman ku yang tahu rumah nya
si “Tinta Manis”. Sudah kudapatkan namun aku tak tahu, ku ingat-ingat lagi,
dulu aku pernah mengantarnya pulang. Dan akhirnya sampai di depan rumahnya.
Namun aku tak ingat persis yang mana rumahnya. Aku pun menyakan kepada seorang
wanita paruh baya yang sedang mengobrol di luar rumah yang ternyata beliau
adalah mama nya. Agak terkejut dalam batin ku, beliau lantas mengantarkan ke
rumah dan memanggil si “Tinta Manis”.
Lama kami bertamu, ya walupun tamu yang tak
diundang. Banyak hal yang kami bgi bersama di senja itu. Dari mulai cerita
ketika masa-masa SMA dahulu hingga pengalaman-pengalaman masa setelahnya.
Bagaimana dengan diriku ?, seperti biasanya kekikukan yang menyelimuti. Tapi
sekarang sudah lebih santai Karena taka ada yang mengejek lagi.
Waktu terus berlalu hingga sampai di penghujung
adzan maghrib. Aku katakan saja kepadaMey dan Nisa seharusnya kita sudahi
pertemuan hari ini malam mulai menyapa
tandasku. Begitupun ajak Nisa yang sudah terlihat ngantuk. Dan hari itupun ditutup dengan perpisahan
kami dengan si “Tinta Manis”.
“Pertemuan yang sederhana adalah ketika senyum ku
dan senyum mu, begitu mandiri saat-saat itu.”
Malam Yang Bercerita
Satu minggu sudah aku melewatkan masa liburku di
rumah. Tak ada yang tak dikenang dalam memori. Baik kejadian-kejadian sendiri
ataupun memori kolektif pertemuan diriku dengan si “Tinta Manis”. Senin aku
kembali ke Jatinangor, tempat dimana diri ditempa untuk menanggung masa depan.
Dalam perjalanan ke Jatinangor pikiran ini tak mau
berhenti untuk berkisah. Diari kecilku tak cukup untuk menampung semuanya. Hingga aku tambahkan dengan selembar A4 pun
tetap tak mampu menampung semuanya. Sepanjang perjalanan aku memikirkan banyak
hal, samapai otak ku serasa sedang di ujung hidupnya.
Tak hanya memikirkan persoalan di kampus tercinta,
akan tetapi lebih banyak tentang persoalan yang kutemui di perjalanan dan juga
perihal yang sedang actual. Di saat bus yang aku tumpangi melintasi pegunungan
kapur di Padalarang, sermepak mata ini tertuju kepada tambang pasir yang
mengotori mata ini. Kepulan asap mesin membuat pemandangan hijau royo-royo
bias.
Aku ingin marah dalam pikiranku “kenapa manusia
seenaknya mengeksploitasi alam, seenaknya menguasai alam atas nama sendiri.
Padahal alam tercipta dan terkembang untuk seluruh umat manusia”. Hanya bisa
geram saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepentingan didalam penguasaan alam
kiranya menjadi hal yang biasa di belahan bumi ini. Mungkin tak pernah ada
permisi kepada yang memiliki.
Empat jam perjalanan telah berlalu, bus itu
membawaku ketempat tinggal ku, Pondok Angsana. Namun tak bisa di elakkan aku
harus ke kampus mengurusi berkas pendaftaranku di Unit Kegiatan Mahasiswa ( UKM
). Kebetulan UKM yang aku ikuti sedang melaksanakan rekrutmen, sebelumnya sudah
kupersiapakan berkas pendaftaran jauh-jauh hari.
Baru senja aku kembali ke kasur empuk ku, kelelahan
merajai tubuh ini. Tapi masih ada aktivitas yang harus aku lakukan. Design
untuk acara belum selesai aku buat, padahal deadline waktu penerbitannya
sebentar lagi. “Sudah lah, ku selesaikan saja semua malam ini”.
Selepas isya ku nyalakan laptop dan mulai
mengerjakan apa yang harus ku selesaikan. Satu demi satu design ku selesaikan.
Tak sulit, namun perlu ketelitian dan waktu untuk menyelesaikannya. Hingga dipenghujung malam aku mampu
menyelesaikan itu semua.
Pagi
Berganti Bercerita
Rasa rindu terhadap ia membuat pagiku terasa hangat
luar biasa. Gejolak darah mendesir hingga ke otak. Barangkali ini yang orang
namakan rindu, rindu yang tak tersalurkan membuat hati menggebu tak karuan.
Singkat saja, jaringan telpon adalah media ampuh yang menjadi tempat manis
tanpa pertemuan. Sesungguhnya kadang sesak jiwa ini manakala tak mampu
memandang cantik wajahnya.
Jarak yang menghalangi berbuah rindu yang sangat
berarti. Hal ini tak hanya diriku yang merasakannya, diujung telpon sana dia
merasakan hal yang sama. Rindu yang menyiksa bukan ?, hatiku selalu berujar
demikian. Namun, aku sadari bahwa semua ini bukanlah kenyataan tak berarti. Ini
adalah bagian dari proses yang akan bermuara jika keduanya menghendaki.
Akh… biarkanlah pagi ini mentari bercerita kepada
awannya, biarkan awan menyebarkan gossip aku dengan dia yang kucinta. Tak
peduli sampai hingga kepada siapa, biarkan angin membawanya dan ku harap sampai
ketelinga dia Si Tinta Manis. Tak ubahnya candu, kali ini dia membuat otot dan
syarafku seperti ingin copot. Kuasa diriku mengendalikan lara ini, namun rindu
tak bisa membodohi hati.
Siang
yang memanasi
Di tengah pergulatan hari, dimana perut dan jiwa
perlu diisi. Aku beranjak menikmati sesuap nasi dan secangkir kopi. Bagiku
seorang calon sarjana hal ini merupakan nikmat duniawi. Selepas santapan habis,
ku biarkan pikiran melayang skeptis. Mataku memejam sedangkan otakku bermain
liar membayangkan saat rindu ini sampai pada muaranya.
Hawa panas hari ini membakar kulit, hingga makin
busuk warnanya. Beribu tembang yang aku dengarkan melalui tape, tak mengikiskan
tembangku dengannya. Hari seakan memanasi perasaan yang aku rasakan. Betapa
jahatnya, seakan diriku merupakan musuh alam pada saat ini.
Jiwaku terlempar disudut ruangan putih yang hanya
sedikit dimasuki cahaya mentari. Aku coba memainkan perasaan agar sesuai dengan
kenyataan. Tidak muncul sebagai drama dan seperti fatamorgana. Diamku dalam
piker dan heningku.
Akhir hari yang melapangkan nya
Mala mini perasaan yang sejak tempo hari aku alami
tereduksi. Tidak sepenuhnya namun sudah cukup untuk ku menghela nafas panjang.
Hari ini aku mulai sadar kenyataan yang memang harus dihadapi. Jarak yang
menjulang ini memberikan protein untuk selalu percaya. Percaya kepada dia dan
harinya, percaya kepada ujung dari smeua rindu yang menggelora. Hingga aku tahu
kemana ini semua bermuara.
Malam yang dingin menyejukan pikiran, untuk kembali
melukiskan tinta diatas kertas putih. Pena menari-nari liar hingga mampu
menjelaskan tabir kerinduan. Bintang yang bernostalgia dengan rembulan seolah
menyaksikan suatu kegelisahan meredup. Tereduksi menjadi benih positif yang
berupaya lebih baik lagi.
Taka ada dendam kepada hari lalu, kini aku mulai
cari muara nya. Menyusuri tepi demi tepi anak sungai dari hulu ke hilir. Sampan
aku dayuh, dermaga demi dermaga ku singgahi hanya demi menyaksikan muara kita
Tinta Manis. Sudah berapa purnama aku ingin mencari, hingga kadang lelah
membebani selama perjalanan.
Sampai aku piker ini adalah akhir, akhir dari segala
usaha dan do’a. Namun, jiwa yang merdang mendengarnya menampar pipi ini. Sampai
darah tercucur keluar dari gigi. Harapan akan mura itu masih aku genggam dan
akan selalu ku rindui kemana pun kaki ini berpijak.
0 komentar:
Posting Komentar